Jumat, 13 April 2012

Ibukku Kartiniku, oleh: Krisna Satria


Cerita ini hanyalah fiktif belaka, apabila ada kesamaan nama tokoh, tempat, dan jalan cerita, itu bukanlah suatu kesengajaan.
“IBUKU KARTINIKU”

Pagi hari yang cerah, seperti biasa aku dan ibuku harus berjualan ke Pasar Talijinah yang letaknya agak jauh dari rumahku. Ibuku yang usianya mungkin sudah hampir genap 50 tahun, masih kuat mengangkat tiga bakul semangka hasil panen kemarin. Sedangkan aku, hanya satu bakul saja sudah kecapekkan.
“Kalau sudah capek, berhenti dulu ya nak.”
“Ah, kalau berhenti nanti kapan sampainya”
Akhirnya sampailah kami di Pasar Talijinah. Kami langsung bergegas mencari tempat untuk berjualan. Namun sayang, tampaknya kami kesiangan. Hanya lapak barisan belakang saja yang masih kosong.
“Yah, masak disini sih jualannya, kapan dapat pembeli?” keluhku
“Tidak apa-apa nak, nanti juga pembelinya datang. Tunggu saja”
Ibuku memang orang yang penyabar, walaupun aku sering mengeluh, tapi ibu tidak pernah memarahiku.
“Bu, yang ini berapa ya?” ternyata ada pembeli yang menjajaki lapak kami.
“Oh, Rp.9.000,00 aja bu”
“Wah kok kemahalan ya? Rp.6.000,00 aja ya!”
“Kalau Rp.6.000,00 sih gak dapat bu, gimana kalau Rp.15.000,00 dua buah”
“Ya udah deh bu, saya beli dua buah”
Setelah hari mulai siang, dan semangka kami tinggal tiga buah, kami bergegas untuk pulang karena takut sampai dirumah sudah tepat tengah hari.
Sesampainya dirumah, ternyata sudah siang hari. Kulihat tidak nampak tanda-tanda ada bapak dirumah. Tampaknya bapakku masih bekerja disawah.
Setelah mandi untuk menyegarkan badan, aku melihat ibuku sudah kembali berkutat dengan jarum dan mesin jahitnya. Memang selain berjualan, ibuku juga bekerja sebagai tukang jahit.
Aku masuk kekamar untuk belajar. Memang besok ada ulangan di sekolah. Namun tiba-tiba aku mendengar jeritan ibuku, seperti orang sekarat. Aku segera lari menuju ibuku, kulihat ibuku sudah tergeletak di lantai tak sadarkan diri. Disaat yang bersamaan, datang bapakku dari sawah. Kami berdua langsung panik dan meminta pertolongan warga.
Setelah lima jam menunggu, akhirnya dokter datang.
“Bagaimana keadaan ibu saya, dok”
“Maaf, kami sudah mecoba semaksimal mungkin, tapi nyawa ibu anda tidak bisa tertolong lagi.”
Kami seketika kaget. Aku langsung menangis mendengar perkataan dokter tadi.
“Tidak mungkin!!” seraya berlari meninnggalkan rumah sakit itu.
Hari ini adalah upacara pemakaman ibuku. Banyak sekali keluarga yang datang. Tapi walaupun kau sudah tak ada ibuku, kau tetap KARTINI dihidupku.

Reaksi:

0 Komentar:

Poskan Komentar

Silahkan komentar disini